Koran Bekas tapi Masih Membekas

Para pembaca koran pada zamannya mendapat cap sebagai orang membosankan yang kaku. Mungkin juga kita punya gambaran kalau seseorang sedang membaca koran pasti selalu ditemani segelas kopi dan cemilan, tapi sebenarnya koran itu sangat-sangat penting loh, terutama kontennya yang berisi berita-berita.

Sumber : https://socio-politica.com/2014/09/06/noda-asimetri-kompas-dan-tempo-pada-pemilihan-presiden-2014/
Sumber : https://socio-politica.com/2014/09/06/noda-asimetri-kompas-dan-tempo-pada-pemilihan-presiden-2014/

Namun, seiring perubahan zaman, sekarang ini, gue memegang keyakinan bahwa sebagian besar millenials sudah tidak lagi membaca koran dalam bentuk fisiknya.

Pertumbuhan Oplah Koran
Sumber : https://tirto.id/pertumbuhan-oplah-koran-melambat-melambat-menurun-ciy7

Dapat dilihat dari grafik diatas bahwa Oplah koran dan media cetak lain dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir semakin menurun. Bahkan gue kesulitan mencari koran untuk membungkus barang pecah belah saat mau pindahan, tukang nasi uduk dekat rumah juga lebih sering menggunakan kertas ulangan bekas ketimbang koran sebagai bungkus gorengannya. Menurunnya oplah koran bukan berarti minat membaca berita masyarakat Indonesia ikut menurun, namun minat itu telah menemukan medium barunya.

Sebut saja mawar portal berita daring. Kemudahan dan fleksibilitas yang ditawarkan cukup untuk membuat para pembaca koran konvensional mendua atau bahkan berpindah ke lain hati :”( ‘kok sedih.

laptop
Sumber : https://nasional.tempo.co/

Seperti yang kita lihat, media konvensional seperti koran tidak sepenuhnya digantikan, hanya saja kemasan dan beberapa elemennya berganti menyesuaikan kebutuhan zaman (Remediation). Keberadaan internet merupakan faktor utama terjadinya remediasi ini, sehingga para pegiat berita mulai menemukan cara yang lebih efektif dalam menyebarkan konten mereka. Remediasi juga mendorong terjadinya participatory culture yaitu saat audiens bukan hanya mengkonsumsi konten yang disajikan namun juga turut menyumbang konten.

Sumber :

  • Catatan perkuliahan

Iona Savalida Ramadea (1706979606)

#SPIK600088 #SAP2

 

Iklan

Diterbitkan oleh

ciriti kiti

Penulis dari blog ini terdiri dari : 1. Dara Ninggar Azalia 2. Iona Savalida Ramadea 3. Tanika Syafira Marsha 4. Vaisal Elfariz

2 tanggapan untuk “Koran Bekas tapi Masih Membekas”

  1. Halo yonn
    Emang sedih sih ternyata banyak unintended consequences yang muncul dengan mulai digantinya media koran seperti yang lo contohin di atas susah nyari koran buat alas duduk atau bungkus barang.. hehe. Tapi gue pribadi merasa dimudahkan dengana adanya media baru seperti artikel online. Lebij praktis dan ringkas bukan?

    Afifa Alma Suhaila / 1706051722

    Suka

  2. Sumpah gue kan suka banget baca majalah ya yon, lebih ngeliatin illustrasinya sih hehe. Dan dulu gue sempeeet banget punya citacita kerja di majalah! Nah hal itu suka bikin gue mikir, majalah bakal longlast gak ya? Koran juga gak ya? Secara sekarang semuanya serba elektronik dan lewat internet.
    Tapi gak dipungkiri lagi sih kalau artikel via online itu lebih gampang diakses, cepat, dan ngga berbayar gitu kan.. Menurut lo sendiri, keberadaan majalah sama koran itu di masa depan bakal sepenuhnya tergantikan sama yang online online ngga ya?

    Dara Ninggar Azalia
    1706051836

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s